
Menciptakan Solusi Iklim
Bersama yang Adil
dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan,
menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar
pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Building Climate
Resilience Through
Collective ActionKami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan
untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan,
dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal
ke Perubahan Kebijakan
yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis,
kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan
untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.
SHAPING A FAIR
& SUSTAINABLE
FUTURE.We believe a thriving future is possible
when everyone works together to protect people
and the planet.
Menciptakan Solusi Iklim
Bersama yang Adil
dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan,
menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar
pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Building Climate
Resilience Through
Collective ActionKami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan
untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan,
dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal
ke Perubahan Kebijakan
yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis,
kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan
untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.
SHAPING A FAIR
& SUSTAINABLE
FUTURE.We believe a thriving future is possible
when everyone works together to protect people
and the planet.
Menciptakan Solusi Iklim
Bersama yang Adil
dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan,
menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar
pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Building Climate
Resilience Through
Collective ActionKami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan
untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan,
dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal
ke Perubahan Kebijakan
yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis,
kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan
untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.
SHAPING A FAIR
& SUSTAINABLE
FUTURE.We believe a thriving future is possible
when everyone works together to protect people
and the planet.
Menciptakan Solusi Iklim
Bersama yang Adil
dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan,
menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar
pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Building Climate
Resilience Through
Collective ActionKami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan
untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan,
dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal
ke Perubahan Kebijakan
yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis,
kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan
untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.
SHAPING A FAIR
& SUSTAINABLE
FUTURE.We believe a thriving future is possible
when everyone works together to protect people
and the planet.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.

Menciptakan Solusi Iklim Bersama yang Adil dan Berkelanjutan
Sebagai titik temu strategis, MADANI membangun percakapan, menggerakkan aksi kolektif berbasis bukti yang berakar pada realitas lokal untuk menciptakan dampak global yang nyata.

Membangun Ketangguhan Iklim Melalui Aksi Kolektif
Kami mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan terukur, membangun ketangguhan iklim dari akar rumput.

Dari Wawasan Lokal ke Perubahan Kebijakan yang Strategis
Dengan memperkuat suara lokal dan memanfaatkan aliansi strategis, kami mengubah wawasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan untuk dampak iklim yang adil dan berjangka panjang.
Latest News
Mengubah
Masa Depan Iklim
Dengan
Kami bekerja sama di berbagai sektor, berinovasi dengan data, mengadvokasi kebijakan yang adil, dan mengaktifkan aksi kolektif untuk memastikan masa depan iklim yang adil dan berkelanjutan.
Mengubah
Masa Depan Iklim
Dengan
Kami bekerja sama di berbagai sektor, berinovasi dengan data, mengadvokasi kebijakan yang adil, dan mengaktifkan aksi kolektif untuk memastikan masa depan iklim yang adil dan berkelanjutan.
Mengubah
Masa Depan Iklim
Dengan
Kami bekerja sama di berbagai sektor, berinovasi dengan data, mengadvokasi kebijakan yang adil, dan mengaktifkan aksi kolektif untuk memastikan masa depan iklim yang adil dan berkelanjutan.
- 174.500
Krisis Meningkat, Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

- 174.500
Krisis Meningkat, Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

- 174.500
Krisis Meningkat, Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

- 174.500
Krisis Meningkat, Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

TANTANGAN
- 174.500
Krisis Meningkat,
Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

TANTANGAN
Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

TANTANGAN
Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

Solusi Kami
- 174.500
Krisis Meningkat,
Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

TANTANGAN
Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

TANTANGAN
Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

Solusi Kami
- 174.500
Krisis Meningkat,
Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

TANTANGAN
Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

TANTANGAN
Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

Solusi Kami
- 174.500
Krisis Meningkat,
Respons Terfragmentasi.
IPCC memperingatkan bahwa kenaikan suhu global berpotensi melampaui 1,5°C dalam dua dekade ke depan, yang akan semakin memperbesar risiko krisis iklim di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, dampak perubahan iklim diperkirakan dapat mendorong lebih dari 130 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan pada 2030.
Namun, di tengah urgensi tersebut, berbagai solusi yang lahir dari komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan masih berjalan terpisah dan terfragmentasi, sehingga membatasi kemampuannya untuk mendorong aksi iklim yang adil, efektif, dan dapat diperluas skalanya.

TANTANGAN
Hambatan Data dan Kolaborasi.
Aksi iklim yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, namun dalam praktiknya kolaborasi tersebut masih terbatas dan bersifat informal. Salah satu hambatan utamanya adalah fragmentasi data—data iklim, lingkungan, dan sosial-ekonomi tersebar di berbagai institusi, sulit diakses, dan sering kali tidak kompatibel.
Di banyak konteks, termasuk Indonesia, ketiadaan sistem data iklim yang terintegrasi membatasi akses terhadap bukti yang kredibel dan relevan secara lokal. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada data yang parsial, sementara pengetahuan komunitas dan solusi lokal yang telah terbukti sulit memengaruhi kebijakan dan investasi dalam skala yang lebih luas.

TANTANGAN
Suara Lokal yang Terpinggirkan.
Meskipun krisis iklim semakin mendesak, ruang dialog belum efektif menjembatani pengalaman komunitas dengan proses kebijakan nasional. UNEP Emissions Gap Report 2023 menunjukkan dunia masih berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,5–2,9°C pada akhir abad ini, mencerminkan kesenjangan serius antara komitmen global dan implementasi nyata di tingkat lokal.
Di sisi lain, UNDP People’s Climate Vote 2024 mencatat bahwa lebih dari 80% masyarakat global menginginkan aksi iklim yang lebih kuat. Dukungan publik sebenarnya ada, namun belum terhubung secara sistematis dengan proses pengambilan keputusan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak forum, melainkan mekanisme yang mampu menerjemahkan suara lokal menjadi bukti yang kredibel, narasi yang kuat, dan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.

Solusi Kami
Solusi Kami
Mengubah Fragmentasi Menjadi Kekuatan Kolektif.
Kami mengatasi kesenjangan respons iklim dengan menyatukan suara komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan. Kami mendinamisir aksi kolektif lintas sektor bersama pemerintah, swasta, Masyarakat Adat, komunitas lokal, dan masyarakat sipil untuk menghadirkan solusi iklim yang inklusif, terukur, dan berakar pada realitas lokal.

Solusi Kami
Mengubah Fragmentasi Menjadi Kekuatan Kolektif.
Kami mengatasi kesenjangan respons iklim dengan menyatukan suara komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan. Kami mendinamisir aksi kolektif lintas sektor bersama pemerintah, swasta, Masyarakat Adat, komunitas lokal, dan masyarakat sipil untuk menghadirkan solusi iklim yang inklusif, terukur, dan berakar pada realitas lokal.

Solusi Kami
Mengubah Fragmentasi Menjadi Kekuatan Kolektif.
Kami mengatasi kesenjangan respons iklim dengan menyatukan suara komunitas, inovator, dan pembuat kebijakan. Kami mendinamisir aksi kolektif lintas sektor bersama pemerintah, swasta, Masyarakat Adat, komunitas lokal, dan masyarakat sipil untuk menghadirkan solusi iklim yang inklusif, terukur, dan berakar pada realitas lokal.

Dampak Kami
Jejak Pertumbuhan Kami
Mendorong kebijakan yang adil, memperkuat aksi kolektif, dan menyediakan data tepercaya untuk melindungi hutan dan masyarakat.
Platform & Koalisi Multistakeholder
Publikasi Riset & Alat Analitis
Komunitas Lokal & Pemerintah yang Didukung
Kutipan Media
Jangkauan Media Sosial
Dampak Kami
Jejak Pertumbuhan Kami
Mendorong kebijakan yang adil, memperkuat aksi kolektif, dan menyediakan data tepercaya untuk melindungi hutan dan masyarakat.
Platform & Koalisi Multistakeholder
Publikasi Riset & Alat Analitis
Komunitas Lokal & Pemerintah yang Didukung
Kutipan Media
Jangkauan Media Sosial
Dampak Kami
Jejak Pertumbuhan Kami
Mendorong kebijakan yang adil, memperkuat aksi kolektif, dan menyediakan data tepercaya untuk melindungi hutan dan masyarakat.
Platform & Koalisi Multistakeholder
Publikasi Riset & Alat Analitis
Komunitas Lokal & Pemerintah yang Didukung
Kutipan Media
Jangkauan Media Sosial
Program Kami
Empat alur kerja inti memperkuat tata kelola iklim Indonesia.
Iklim & Ekosistem


Iklim & Ekosistem
Madani memperkuat ambisi iklim Indonesia dengan mendukung kebijakan hutan dan lahan yang berkelanjutan serta penerapannya yang efektif. Kami bekerja sama dengan pemerintah lokal, Masyarakat Adat, dan komunitas untuk mengintegrasikan program Desa Iklim dengan inisiatif Perhutanan Sosial, memastikan bahwa kebijakan dan praktik seimbang dengan hasil sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pertanian Berkelanjutan

Bioenergi Berbasis Komunitas

Pengembangan Hijau

0
1
Iklim & Ekosistem
0
2
Pengembangan Hijau
0
3
Pertanian Berkelanjutan
0
4
Bioenergi Berbasis Komunitas
Program Kami
Empat alur kerja inti memperkuat tata kelola iklim Indonesia.
Iklim & Ekosistem


Iklim & Ekosistem
Madani memperkuat ambisi iklim Indonesia dengan mendukung kebijakan hutan dan lahan yang berkelanjutan serta penerapannya yang efektif. Kami bekerja sama dengan pemerintah lokal, Masyarakat Adat, dan komunitas untuk mengintegrasikan program Desa Iklim dengan inisiatif Perhutanan Sosial, memastikan bahwa kebijakan dan praktik seimbang dengan hasil sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pertanian Berkelanjutan

Bioenergi Berbasis Komunitas

Pengembangan Hijau

0
1
Iklim & Ekosistem

Iklim & Ekosistem
Madani memperkuat ambisi iklim Indonesia dengan mendukung kebijakan hutan dan lahan yang berkelanjutan serta penerapannya yang efektif. Kami bekerja sama dengan pemerintah lokal, Masyarakat Adat, dan komunitas untuk mengintegrasikan program Desa Iklim dengan inisiatif Perhutanan Sosial, memastikan bahwa kebijakan dan praktik seimbang dengan hasil sosial, ekonomi, dan lingkungan.
0
2
Pengembangan Hijau
0
3
Pertanian Berkelanjutan
0
4
Bioenergi Berbasis Komunitas
Program Kami
Empat alur kerja inti memperkuat tata kelola iklim Indonesia.
Iklim & Ekosistem


Iklim & Ekosistem
Madani memperkuat ambisi iklim Indonesia dengan mendukung kebijakan hutan dan lahan yang berkelanjutan serta penerapannya yang efektif. Kami bekerja sama dengan pemerintah lokal, Masyarakat Adat, dan komunitas untuk mengintegrasikan program Desa Iklim dengan inisiatif Perhutanan Sosial, memastikan bahwa kebijakan dan praktik seimbang dengan hasil sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pertanian Berkelanjutan

Bioenergi Berbasis Komunitas

Pengembangan Hijau

0
1
Iklim & Ekosistem

Iklim & Ekosistem
Madani memperkuat ambisi iklim Indonesia dengan mendukung kebijakan hutan dan lahan yang berkelanjutan serta penerapannya yang efektif. Kami bekerja sama dengan pemerintah lokal, Masyarakat Adat, dan komunitas untuk mengintegrasikan program Desa Iklim dengan inisiatif Perhutanan Sosial, memastikan bahwa kebijakan dan praktik seimbang dengan hasil sosial, ekonomi, dan lingkungan.
0
2
Pengembangan Hijau
0
3
Pertanian Berkelanjutan
0
4
Bioenergi Berbasis Komunitas
Berita & Acara
Ikuti perkembangan seputar keberlanjutan.
Berita terbaru kami, aktivitas lapangan, wawasan, dan siaran pers.

Berita
15 Nov 2025
Saatnya Pendanaan Iklim Langsung Bagi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal
Pendanaan iklim dinilai masih terlalu birokratis dan sulit diakses Masyarakat Adat, padahal mereka berada di garis depan krisis iklim. Dalam COP30, masyarakat sipil mendesak peralihan ke pendanaan langsung berbasis hak dan kepercayaan, serta menegaskan bahwa pendanaan iklim adalah kewajiban negara maju, bukan bantuan, agar manfaatnya benar-benar dirasakan hingga tingkat komunitas.
Read More
Read More

Berita
14 Nov 2025
Indonesia Belum Layak Jual Karbon, Jika Belum Cukup Berkomitmen Menurunkan Emisi
Masyarakat sipil menilai target penurunan emisi Indonesia dalam SNDC masih “critically insufficient”, sehingga Indonesia belum layak menjual kredit karbon internasional
Read More
Read More

Berita
7 Nov 2025
KTT COP30: Indonesia Harus Lakukan Perubahan Fundamental untuk Merasakan Manfaat Pendanaan Iklim
Koalisi masyarakat sipil menilai Indonesia perlu melakukan perubahan mendasar agar pendanaan iklim benar-benar adil dan sampai ke masyarakat adat serta komunitas penjaga hutan, bukan justru memperkuat industri ekstraktif dan deforestasi.
Read More
Read More

Berita
15 Nov 2025
Saatnya Pendanaan Iklim Langsung Bagi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal
Pendanaan iklim dinilai masih terlalu birokratis dan sulit diakses Masyarakat Adat, padahal mereka berada di garis depan krisis iklim. Dalam COP30, masyarakat sipil mendesak peralihan ke pendanaan langsung berbasis hak dan kepercayaan, serta menegaskan bahwa pendanaan iklim adalah kewajiban negara maju, bukan bantuan, agar manfaatnya benar-benar dirasakan hingga tingkat komunitas.
Read More
Read More

Berita
14 Nov 2025
Indonesia Belum Layak Jual Karbon, Jika Belum Cukup Berkomitmen Menurunkan Emisi
Masyarakat sipil menilai target penurunan emisi Indonesia dalam SNDC masih “critically insufficient”, sehingga Indonesia belum layak menjual kredit karbon internasional
Read More
Read More

Berita
7 Nov 2025
KTT COP30: Indonesia Harus Lakukan Perubahan Fundamental untuk Merasakan Manfaat Pendanaan Iklim
Koalisi masyarakat sipil menilai Indonesia perlu melakukan perubahan mendasar agar pendanaan iklim benar-benar adil dan sampai ke masyarakat adat serta komunitas penjaga hutan, bukan justru memperkuat industri ekstraktif dan deforestasi.
Read More
Read More

Berita
15 Nov 2025
Saatnya Pendanaan Iklim Langsung Bagi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal
Pendanaan iklim dinilai masih terlalu birokratis dan sulit diakses Masyarakat Adat, padahal mereka berada di garis depan krisis iklim. Dalam COP30, masyarakat sipil mendesak peralihan ke pendanaan langsung berbasis hak dan kepercayaan, serta menegaskan bahwa pendanaan iklim adalah kewajiban negara maju, bukan bantuan, agar manfaatnya benar-benar dirasakan hingga tingkat komunitas.
Read More
Read More

Berita
14 Nov 2025
Indonesia Belum Layak Jual Karbon, Jika Belum Cukup Berkomitmen Menurunkan Emisi
Masyarakat sipil menilai target penurunan emisi Indonesia dalam SNDC masih “critically insufficient”, sehingga Indonesia belum layak menjual kredit karbon internasional
Read More
Read More

Berita
7 Nov 2025
KTT COP30: Indonesia Harus Lakukan Perubahan Fundamental untuk Merasakan Manfaat Pendanaan Iklim
Koalisi masyarakat sipil menilai Indonesia perlu melakukan perubahan mendasar agar pendanaan iklim benar-benar adil dan sampai ke masyarakat adat serta komunitas penjaga hutan, bukan justru memperkuat industri ekstraktif dan deforestasi.
Read More
Read More

Berita
15 Nov 2025
Saatnya Pendanaan Iklim Langsung Bagi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal
Pendanaan iklim dinilai masih terlalu birokratis dan sulit diakses Masyarakat Adat, padahal mereka berada di garis depan krisis iklim. Dalam COP30, masyarakat sipil mendesak peralihan ke pendanaan langsung berbasis hak dan kepercayaan, serta menegaskan bahwa pendanaan iklim adalah kewajiban negara maju, bukan bantuan, agar manfaatnya benar-benar dirasakan hingga tingkat komunitas.
Read More
Read More

Berita
14 Nov 2025
Indonesia Belum Layak Jual Karbon, Jika Belum Cukup Berkomitmen Menurunkan Emisi
Masyarakat sipil menilai target penurunan emisi Indonesia dalam SNDC masih “critically insufficient”, sehingga Indonesia belum layak menjual kredit karbon internasional
Read More
Read More

Berita
7 Nov 2025
KTT COP30: Indonesia Harus Lakukan Perubahan Fundamental untuk Merasakan Manfaat Pendanaan Iklim
Koalisi masyarakat sipil menilai Indonesia perlu melakukan perubahan mendasar agar pendanaan iklim benar-benar adil dan sampai ke masyarakat adat serta komunitas penjaga hutan, bukan justru memperkuat industri ekstraktif dan deforestasi.
Read More
Read More
Berita & Acara
Ikuti perkembangan seputar keberlanjutan.
Berita terbaru kami, aktivitas lapangan, wawasan, dan siaran pers.
Berita & Acara
Ikuti perkembangan seputar keberlanjutan.
Berita terbaru kami, aktivitas lapangan, wawasan, dan siaran pers.
Publikasi
Wawasan Strategis untuk Aksi Iklim: Mengubah Wawasan Menjadi Kebijakan.
Jelajahi publikasi dan alat strategis kami yang menginformasikan dan membentuk keputusan iklim yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. CTA: Lihat Semua Publikasi
Publikasi
Wawasan Strategis untuk Aksi Iklim: Mengubah Wawasan Menjadi Kebijakan.
Jelajahi publikasi dan alat strategis kami yang menginformasikan dan membentuk keputusan iklim yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. CTA: Lihat Semua Publikasi
Publikasi
Wawasan Strategis untuk Aksi Iklim: Mengubah Wawasan Menjadi Kebijakan.
Jelajahi publikasi dan alat strategis kami yang menginformasikan dan membentuk keputusan iklim yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. CTA: Lihat Semua Publikasi
TERUS TERHUBUNG
Ikuti kami di media sosial dan bergabunglah bersama kami untuk mendorong perubahan nyata bagi masyarakat dan bumi.
Ikuti kami di media sosial dan bergabunglah bersama kami untuk mendorong perubahan nyata bagi masyarakat dan bumi.
Pelaporan Pelanggaran
Ikuti Perkembangan Terbaru
Dapatkan insight terbaru, kisah-kisah, dan pembaruan seputar aksi iklim dan keberlanjutan di Indonesia, langsung ke kotak masuk email Anda.
Daftarlah untuk menerima buletin bulanan kami.
Dapatkan insight terbaru, kisah-kisah, dan pembaruan seputar aksi iklim dan keberlanjutan di Indonesia, langsung ke kotak masuk email Anda.
Daftarlah untuk menerima buletin bulanan kami.





